Ini kisahku untuk menjadi entrepreneurs, memulai usaha toko kosmetik dan aksesoris wanita. Memulai usaha bagi kebanyakan orang mungkin bukan sesuatu hal yang mudah. Aku barangkali masuk kedalam kategori kebanyakan orang tersebut. Bukan gak ada niat, pun demikian dengan ide. Namun, saking terlau hati-hatinya menjerumuskanku kedalam masalah untuk tidak menimbulkan masalah. Belakangan aku sadari betul bahwa, ini jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan bila kita “Do Something” dan dalam perjalanannya kita menghadapi aral.

Kesadaran Harus Dicari

Kesadaran itu tidak muncul dengan tiba-tiba. Tapi melalui proses yang cukup panjang. Bermula dari pesan via WA yang dikirim teman lamaku. Dia telah loss contact selama bertahun tahun denganku. Chit chat pun berlanjut dari WA ke kopdar. Dari obrolan yang ngalor ngidul tak berujung, lama-lama mulai menyinggung ke masalah hidup dan penghidupan. Terus terang saja aku sendiri tidak menyangka akan dipertemukan kembali setelah sekian lama. Saat itu, aku lebih banyak mendengar, ketimbang bicara. Karena bagiku apa yang dia tuturkan merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Perjalanan hidupnya sampai saat itu, bukan perjalanan tanpa makna. Bahkan bisa dikatakan dia berhasil melakukan lompatan nasib karena pilihan yang tepat.

Sebetulnya ini biasa-biasa saja, jikalau aku tidak sampaikan bahwasanya dia bukan lah lulusan perguruan tinggi manapun. Ya benar, dia hanya lulusan sekolah menengah pertama (SMP). Bahkan Bangku SMA pun belum sempat dia cicipi. Sementara aku merupakan lulusan perguruan tinggi, juga pernah dan sedang menjalani hidup sebagai karyawan. Tapi melihat begitu piawainya dia mengelola toko kosmetik dan aksesorisnya, membuatku takjub.

Keterampilannya, instingnya dalam menjalankan toko kosmetik dan aksesoris miliknya cukup tajam. Kalau dalam skala bisnis, masih tergolong usaha mikro kecil sih. Bukan sebuah bisnis yang mentereng. Tapi kali aja bisa ngikutin jejak putra lanang bapak presiden. Sukses menjadi inspirasi kaum milenial berkat jualan pisang dan martabak. Yang konon kabarnya omsetnya bisa sampai ratusan juta. Begitu ujarnya.

Yang menonjol darinya adalah seringkali keputusannya tepat disaat yang tepat. Seolah nasib menuntunya ke tempat yang semestinya. Jalannya terbuka lebar tanpa halangan yang berarti. Melihatnya, membuat batinku terketuk. Sampai pada suatu masa,kubertanya dalam refleksi heningku. Apa jangan jangan karena aku ini karyawan sehingga kreativitas dan daya juangku semakin terbatasi? Lirihku, bisa jadi. Ya, kita tahu bahwa karyawan yang sukses itu, ya karyawan yang baik menurut atasannya. Takarannya dari perjalanan karir yang meningkat. Tanpa disadari olehku, rupanya itu membuatku nyaman. “Just do it what you have to be done”. Dan itu artinya melakukan apa yang atasanmu expect.

Permulaan dan Awal yang “Baik”

Pertemuan demi pertemuan pun semakin sering terjadi. Bagiku, kisahnya adalah vitamin dan pelepas dahaga akan keinginan untuk memulai usaha. Mulai melangkah. Walau tertatih, walau merangkak. Semakin lama kusemakin menyadari, bahwa backround pendidikan tidak selalu berkontribusi positif. Aku teringat dengan tokoh filsafat yang sedang naik daun Pak Rocky Gerung. Beliau berujar disalah satu statsiun TV, kurang lebih mengatakan bahwa ijazah itu adalah bukti bahwa anda pernah kuliah bukan bukti bahwa anda berpikir. Bagiku, wah ada betulnya rupanya ucapan beliau ntuh. Terkadang, justru ijazah menjadikan pemiliknya merasa menguasai dan memiliki sesuatu, yang bisa saja itu terlalu overestimated. Jika ini terjadi maka yang ada adalah, kita terjerumus kepada mindset yang salah. Mindset pekerja. Dan pada level tertentu, meningkatkan keegoan. Pilah-pilah pekerjaan salah satu resultante nya. Walaupun disisi lain, kesadaran akan kebutuhan hidup tidak dapat diselesaikan dengan ego, melainkan dengan kerja, pastilah ada.

Ketika kusampaikan bahwa aku memiliki keinginan untuk berwirausaha. Dengan senang hati dia menawarkan usaha yang serupa dengannya, ya toko kosmetik dan aksesoris wanita. Memang, dari dahulu aku sendiri sangat tertarik dengan dua hal itu, maklum perempuan. Namun saat itu akunya pure sebagai konsumen dari sebuah toko kosmetik ternama di kampungku. Konsumen setia malah, hampir tiap minggu belanja kesana. Koleksi berbagai macam aksesoris, seperti gelang, bross dan aneka kosmetik berbagai merk di meja rias mungil dikamarku bertebaran tak dapat tempat lagi. Tapi jangan mengira harganya mahal atau branded. Karena aku hanyalah seorang perempuan kampung dengan kantong cekak saat itu.  Terlebih, aku sendiri penganut Quantity over Quality he…he.. yang penting banyak deh, tapi unik, meskipun itu barang rumahan yang menyerupai produk ternama. Yang penting aku bisa dengan leluasa memilih untuk memadupadankannya dengan pakain yang dikenakan.

Waktu itu kepikiran juga sih sebetulnya untuk buka toko kosmetik dan aksesoris sendiri. Namun tadi ntuh, sebagaimana diawal. Saya ragu. Saya gak punya cukup keberanian untuk taking action. even for just a single step. Bahkan ketika saya utarakan niatan untuk memulai bisnis ini pun hatiku masih belom sepenuhnya yakin. Sampai temenku memaksa dan setengah menjebak. Pada suatu kala, dia memaksaku untuk ikut keliling mencari dan mengorder barang dari supplier. Dia mendorong sepenuh hati, menunjukan dan menjelaskan satu persatu. Keraguanku mulai saat itu pun memudar.

Analisis Usaha

Tekadku semakin bulat untuk memulai. Tabunganku dikuras abis buat modal. Bahkan, ketika menurut hitunganku masih kurang, kuupayakan lewat pinjaman. Pikirku, yang penting jalan dulu deh. Analisis usaha seadanya, semampunya, pun aku lakukan.  Urusan modal dah sip, pikirku.

Next. Dimanakah lokasi yang tepat untuk buka toko kosmetik dan aksesoris wanita? This is the real problem pikirku. Dan benar saja. Hampir tiap hari kelayapan menyusuri jalan dan keramaian. Dari satu pasar ke pasar lain. Dari kawasan pertokoan ke kawasan pertokoan lainnya pun disusuri. Ternyata, mencari lokasi yang menurut analisis kita sekedar ok aja tuh susah banget. Susah setengah mati. Padahal belum tentu juga lokasi pilihan kita tuh, sesuai harapan. Rata-rata tempat yang didatangi sudah tidak ada space ruko kosong. Kalopun ada yang kosong, sudah ada toko kosmetik dan aksesoris didekatnya. Sehingga dengan pertimbangan skala usaha (karena baru akan mulai), akan sulit memenangkan persaingan secara head to head.  Atau ketika ada yang ruko kosong, maka lokasinya agak jauh dari ideal atau hanya untuk sekedar mendekati hasil analisis kita baik dari sisi strategisnya maupun dari harga sewanya. Lelah setelah mencari sekian hari bahkan minggu, akhirnya ego yang main. Pikiran yang penting mulai dulu semakin merasuki. Mengalahkan akal sehat. Sehingga abai terhadap hasil analisis. Dan ini disaster, pikirku waktu itu. Tapi… ok deh kita coba aja.

Toko Kosmetik dan Aksesoris Pertamaku

Toko kosmetik dan aksesoris wanita pertamaku akhirnya dibuka. Di tempat yang hanya dilihat dalam sehari, hari libur pula. Awal awal kinerja operasional toko ternyata tidak begitu buruk. Market cukup menyambut kehadiran kita. Omset pun terus merangkak naik walaupun jauh dari harapan. Bulan pertama masih ok, bulan kedua pun demikian. Masalah mulai timbul ketika karyawan toko yang lama mengundurkan diri. Dengan karyawan baru pengganti, omset menurun drastis. Kita bolak-balik evaluasi, dan blas sampai sekarangpun tak tahu pasti penyebabnya.

Dengan menurunnya omset penjualan artinya margin juga menurun drastis. Bahkan sampai pada titik dimana biaya operasional tidak tercukupi oleh aktivitas penjualan. Sehingga butuh intervensi atau suntikan dana. Beberapa bulan kemudian, akhirnya dengan berat hati aku putuskan untuk memindahkan lokasi toko tersebut sebelum jauh terjerumus dalam kerugian. Tak disangka, rupanya keputusanku untuk memindahkan lokasi toko cukup tepat. Kini, setidaknya kondisinya sudah tidak terlalu berdarah-darah. Dan yang terpenting, ini merupakan pelajaran berharga bagiku. Berani ambil resiko, tapi tetaplah rasional.