Pantai pangandaran merupakan salah satu tempat wisata di provinsi Jawa Barat yang hampir tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi saat musim liburan anak sekolah dan karyawan. Tidak mengherankan jika objek wisata pantai pangandaran menjadi kawasan wisata unggulan propinsi Jawa Barat, kategori rekreasi pantai. Bahkan potensi yang begitu besar menjadikannya sebagai bagian dari destinasi pariwisata propinsi yang tertuang dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Jawa Barat tahun 2016-2025.

Dahulu, aku relatif sering melakukan perjalanan wisata ke Pantai Pangandaran. Ya, dulu ketika masih berseragam putih abu-abu. Hampir setiap liburan sekolah, pasti pikniknya ke Pantai Pangandaran, walaupun waktu itu dalam kedok study tour. Hampir kuingat setiap tempat yang ada. Walaupun sebatas pada wilayah pantai saja. Dan tidak lupa, tukang dagang oleh-oleh khas pangandaran. “Samping Pantai” kita menyebutnya.

Sekian tahun berlalu. Rasanya kangen sekali ingin kembali menikmati suasana pantai pangandaran. Pikirku pasti jauh berbeda. Apalagi sekarang kawasan wisata pantai Pangandaran kini berada dalam wilayah Kabupaten Pangandaran. Kabupaten baru di Jawa Barat hasil pemekaran wilayah kabupaten Ciamis. Dengan Pemekaran wilayah tentunya setiap daerah yang dimekarkan akan menggali potensi terbaik yang ada. Untuk Kabupaten Pangandaran, sudah pasti, Daerah Kawasan Wisata lah yang akan digarap. Mana lagi Kalau bukan Kawasan Wisata Pantai Pangandaran.

Suasana Pantai Pangandaran yang Tak ada dalam Memoriku

Benar saja. Aku nyaris tak mengenal lagi tempat-tempat yang ada dalam memoriku. Kenanganku tentang pantai pangandaran rupanya  harus ku rekam ulang. Untung saja, ditengah kemajuan yang begitu pesat, akupun sedikit-demi sedikit menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi. Bahkan menjadi penikmat banyaknya aplikasi di google play yang bisa ku download dan ku gunakan kapan saja di perangkat android sederhanaku.

Kini, tidaklah susah untuk membooking hotel atau penginapan, bahkan guest house sesuai dengan kriteriamu, denga Traveloka misalnya. Atau bisa saja dengan Airy dan banyak aplikasi lainnya. Pun demikian jika kita membutuhkan ATM. Tinggal search di google map dan bisa dipandu langsung sama si mbah google. Sama halnya jikalau kita membutuhkan kendaraan. Gojek dan semua layanan lainnya juga Grab, begitu membantu. Namun, kadang muncul kerinduanku akan suasana yang dulu. Suasana dimana aku bisa susah payah dan berpeluh bertanya pada penduduk lokal tentang lokasi sesuatu. Ngobrol ngalor ngidul dengan nelayan bagaimana keseharian dan mata pencahariannya.

Yang Baru Ku Ketahui dari Pantai Pangandaran

Selama ini, aku hanya tahu objek wisata di Pangandaran tuh ya Pantai Pangandaran. Paling banter ditambah dengan Pasir Putih, yang untuk mencapai kesana harus naik perahu nelayan. Ya rekamanku yang dulu hanya sebatas itu. Kecuali tempat belanja baju dan oleh-oleh khas pangandaran. Kalo urusan ini, nampaknya setiap jengkal yang pernah dilewati, masih tertata rapi dalam ingatanku yang tidak begitu baik.

Dengan suamiku yang mendampingiku, ternyata liburan di pantai pangandaran kali ini akan menjadi liburan yang tak terlupakan. Dia mengenalkanku pada spot-spot wisata baru yang bahkan aku belum pernah bayangkan. Walaupun badanku terasa lelah tak berkesudahan karena harus berjalan sepanjang hari, tapi sangat worthed.

Kawasan Budidaya Mangrove di Pantai Pangandaran

Jelajah Gua di Pantai PangandaranAku baru tahu bahwa tidak jauh dari Kawasan wisata pantai pangandaran ternyata ada budidaya hutan mangrove. Vegetasi yang sangat berguna sebagai pemecah gelombang alami. Tanaman yang kokoh untuk menyerap energi ombak agar tidak terjadi abrasi. Yang menarik, di kawasan hutan mangrove ini, terbentang jembatan kayu yang menjulur ke sayap kiri dan kanan kawasan mangrove. Jembatan kayu yang menjorok ke laut, menjadikannya spot yang asik untuk menikmati udara pagi. Ditemani kopi dan semilir angin, campur deburan ombak. Pasti membuat kamu semakin betah, apalagi bagi provokator (baca: penghobi mancing di air keruh). Pokoknya, wih Mistis dah. Tak tahu kenapa, malah sepanjang perjalanan kesana pun tak bisa lepas dari ingatanku. Jalan kaki ratusan meter menyusuri tambak-tambak penduduk menguatkan suasana agar terus tertanam baik dalam ingatanku. Terimakasih Tuhan.

Jelajah Gua Di Kawasan Cagar Alam

Tidak hanya hutan mangrove yang baru kuketahui. Ternyata di kawasan wisata pantai Pangandaran juga terdapat banyak gua dan situs-situs tua yang bernilai sejarah. Tepat nya terdapat di dalam kawasan Cagar Alam, Pantai Timur Pangandaran.

Dalam Jelajah Gua, aku dan suamiku minta ditemani oleh local guide. Mas Poniman namanya. Beliau dengan sangat fasih menceritakan sepanjang langkah kaki menyusuri jalan setapak yang dilalui. Bagaimana kisah dan fungsi Gua-gua dan situs lainya yang ada.

Awalnya suamiku sok keren, untuk menjelajahi dan explore kawasan cagar alam hanya berdua. Tepatnya ditemani puluhan monyet liar yang tak mau jauh dengan kami. Bersyukur aku minta suamiku untuk ditemenin lokal guide. Karena kalo tidak, mungkin tidak semua gua bisa kami jelajahi dan temukan. Karena memang, beberapa diantaranya memiliki akses seadanya. Bahkan tidak layak untuk dikatakan memadai sebagai akses di kawasan wisata, kala itu, ndak tahu lagi dah kalo sekarang. Akupun gatal untuk bertanya kepada mas Poniman, ihwal kenapa begitu. Aku cuma nyengir miris, mendengar tuturannya. Masalah klasik yang sering kudengar. Tapi sudahlah toh niatku kesini sebisa mungkin untuk menikmati indahnya alam, segarnya udara yang bisa kuhirup.

Sampai pada sebuah gua. Aku tak kuasa kalau tak berkomentar. Bagaimana tidak. Disatu sisi aku setuju saja cagar budaya, cagar alam dan spot lainnya digunakan untuk kepentingan komersil.  Syuting film dan sinetron misalnya, karena dapat menarik wisatawan. Seperti halnya gua ini dan beberapa gua lain.

Namun, paparan mas Poniman mengungkap sisi lain yang sudah bisa kuduga. Akibat penggunaan untuk kepentingan komersil tersebut, kerusakan dibeberapa bagian gua dapat terjadi. Banyak stalactite dan stalagmite yang baru bisa terbentuk dari proses selama puluhan bahkan ratusan tahun, rusak. Belum ditambah dengan kekonyolan pengecatan dinding gua, yang menjadikanya tidak alami lagi. Tapi di luar itu, jelajah gua di pantai pangandaran ini menambah rekaman di memoriku yang bahkan sebelumnya tidak terbayang sama sekali.