Penyakit thalasemia yang disandang salah satu penjaga toko kosmetik dan aksesorisku tidak menghalanginya untuk beraktivitas. Tidak ada maksud apapun bagiku untuk menguar lewat tulisan ini, selain mudah-mudahan menginspirasi penyandang penyakit thalasemia lainnya. Bahwa hidup ini harus terus move on. Kita sendiri yang bisa melukis juga mewarnai memori kita dan orang disekitar kita. Pilihan kitalah mau membuatnya berwarna, atau sekedar putih dan hitam pekat monochrome.

Ini adalah kisahku selanjutnya. Kisah usaha toko kosmetik dan aksesoris wanita. Juga kisah “adikku” melawan untuk tidak menyerah kepada penyakit thalasemia. Sebelumnya aku bercerita tentang bagaimana memulai usaha toko kosmetik dan aksesoris wanita. Sampai kuputuskan untuk kututup toko pertamaku dan “kupindahkan” ke lokasi lain. Sebetulnya kalo mau jujur, tidaklah betul sepenuhnya dipindah. Karena sebelum kututup, aku sempat buka toko keduaku dengan skala jauh lebih kecil, di sebuah pasar desa. Kecil, karena memang ruko yang disediakan oleh pemerintah memang cuma sebesar sekitar 6 meter persegi. Maka dari itu, aku terus berupaya mencari tempat yang lebih representatif. Baru dua bulan kemudian, dapetlah tempat, ruko 1 lantai. Itupun hasil ngelobi si mpunya untuk split dengan usahanya buka pangkalan gas LPG 3kg. Tidak terlalu strategis, tapi aku pikir cukup untuk mengakomodir sempitnya ruko didalem pasar desa. Tidak ada spesial sih dalam perjalanan operasional dari toko kosmetik dan aksesoris keduaku ini.

Yang menarik bagiku adalah ketika toko pertamaku harus aku tutup. Barang terpaksa numpuk di gudang dan tidak bisa terpajang di toko keduaku. Bukan masalah luas atau sempitnya toko. Tapi lebih karena kapasitas maksimal captive market disekitaran toko keduaku. Yang memang tidak terlampau besar. Maklum lokasinya tidak terlalu strategis dan bukan daerah perkotaan. Karena terus terang saja, aku belum berani buka di daerah kota yang harus jauh lebih siap menghadapi persaingan, sumberdaya ku sangat terbatas. Baik capital, maupun knowledgeku.

Memberdayakan “adik ku” Penyandang Penyakit Thalasemia

Keluarga besarku, sering meminta bantuan bibi untuk sekedar beres-beres rumah. Bergilir. Sebetulnya kami terbiasa membereskannya sendiri. Tapi karena satu dan lain halnya maka kami sepakat untuk meminta bantuan bibi dalam mengurus sebagian urusan rumah tangga keluarga besar kami. Nah, bibi ini memiliki anak perempuan yang menyandang penyakit thalasemia. Bawaan sejak lahir. Dengan kasih sayangnya dan kesabarannya yang luar biasa, bibi ini selalu merawat anak semata wayangnya.  Mengantar dan mengurus keperluan transfusi darah rutin setiap bulan, bahkan semenjak anaknya menginjak usia 4 tahunan. Tahunan berlalu, belasan tahun terlewati. Semakin bertambahnya umur anaknya, jadwal transfusi darahnya semakin singkat. Bahkan pada beberapa kesempatan, diharuskan untuk transfusi dalam kurun tidak lebih dari seminggu sekali.

Aku salut atas kesabaran si bibi. Dan aku tahu, bahwa anak perempuannya itu bahkan sangat tertutup. Hampir terisolir dari kehidupan sosial. Mungkin karena “Spesial”. Hal itu terjadi semenjak sudah tidak sekolah.

Spontan pikirku, reflex terlontar pertanyaan ke si bibi dari bibirku. Apakah bibi ngijinin kalau anaknya aku berdayakan untuk sekedar jagain toko kosmetik dan aksesorisku. Bibi menyerahkan sepenuhnya ama anaknya. Tidak nunggu waktu lama, maka aku datangi anaknya bibi, dan aku mendapat persetujuannya. Sekarang akupun bingung, harus dimana dan kapan aku buka toko. Tempatnya saja belum kebayang sama sekali. Bagiku saat itu hanya terpikir bagaimana  saudara perempuanku yang “istimewa” ini, yang menderita penyakit thalasemia, bisa mewarnai hidupnya. Bisa berinteraksi dan berbaur dalam kehidupan sosial di masyarakat. Ya, ini kisahku tentang tokoku, sekaligus kisah saudaraku bagaimana move on dari penyakit thalasemia yang dideritanya. Kisah awal dari keinginan membantu saudara dan juga menciptakan peluang pekerjaan bagi mereka yang mungkin sulit mendapatkan pekerjaan karena satu atau dua hal.

Insya Allah ada Jalan Bagi Para Pencarinya

Bukan hal yang mudah untuk membuka dan memulai toko baru. Pertama keuangan, tempat yang strategis dan kesiapan membagi waktu. Maklum aku masih berstatus sebagai karyawan yang harus patuh terhadap perusahaan yang memperkerjakanku.

Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan mencari tempat yang cocok dengan kondisi keuanganku. Kondisi setelah dihantam “kegagalan” atas toko kosmetik dan aksesoris pertamaku. Hingga suatu hari aku berbincang dengan teman di kantorku. Mungkin inilah jalan yang disediakan untukku. Secara kebetulan dia menawarkan sebuah ruko satu lantai yang cukup sederhana, untuk disewakan. Lokasinya dekat dengan rumahku. Dengan harga sewa cukup terjangkau. Pemiliknya merupakan saudara dari temanku, bahkan adiknya, sahabat karib suamiku. Aku nekad. Nekad untuk dua hal yang berbeda. Kali ini untuk memperjuangkan value yang aku yakini.

Saat itu sempat was-was karena toko yang berjejer 4 petak itu merupakan toko yang benar-benar baru dan masih dalam proses pengerjaan sekitar 90%.  Waswas karena khawatir kita sama-sama jualan barang yang sama, kosmetik dan aksesoris wanita.

Sebulan kemudian baru ku ketahui, toko sebelah memiliki usaha yang berbeda, tenanglah sudah. Dengan modal nekad dan barang seadanya. Kami mulai berbenah. Ya aku dibantu suamiku. Di hari pertama, sengaja dipilih hari libur, kamipun mulai berbenah. Satu, dua barang kosmetik dan aksesoris terpajang. Alhamdulillah saat proses beres-beres pun, mulai ada beberapa orang yang penasaran dan sempat mampir. Semakin optimis dan besarlah harapanku akan prospek toko ini. Toko yang kuniatkan berbeda dengan toko pertamaku. Dihari kedua, saudaraku yang istimewa, adikku penyandang penyakit thalasemia ini ku bawa ke toko. Ku perkenalkan terhadap produk, ya semacam training produk knowledge lah. Tapi jangan dibayangi rumit, cuma sekedar ngasih tahu ini dan itu. Sesederhana mungkin. To make it simple, semua barang di toko kesmetik dan aksesorisku, ku kasih harga pas dan price tag.