Sudah mendengar istilah urban farming atau pertanian perkotaan? Bagi mak-emak,  terutama para kapolda (kepala kepolisian dapur), tentu harga kebutuhan pokok sangat penting untuk terjangkau. Kelabakan setengah mati lah kita kalo harga-harga kebutuhan dapur ntuh merangkak naik dan bahkan loncat-loncat bak kodok. Yang lebih gila lagi jikalu sampai meroket. Biasanya ada ritual tersendiri terkait naiknya harga kebutuhan pokok dinegeri ini. Sesaat sebelum lebaran dan setiap menjelang bulan suci ramadhan. Rupanya selain tingkat keimanan yang meningkat, terlihat dengan banyaknya orang nampak religius, maka harga kebutuhan pun mulai meloncat naik. Seolah ujian pertama kaum hawa dalam menghadapi bulan suci ramadhan itu,ya ujian kesabaran.

Mengapa Urban Farming?

Setahun lalu sekitaran bulan januari 2017, ada seorang menteri pemerintahan republik yang kita cintai ini yang melontarkan tanggapan terkait mahalnya beberapa komoditas pertanian khususnya cabai. Konteksnya kurang lebih bahwa, dinegara kita memang banyak masyarakatnya yang doyan makan cabai. Lha wong “Tahu” aja digado dengan cabai, selorohnya. Ngomong-ngomong  masalah tahu, di Jawa Barat tepatnya di Kab Sumedang ada tempat jualan tahu yang enak lho. Ya! Tahu Sumedang memang yahut dan gurih. eh back to topic, menurutnya ini lebih kepada kebiasaan masyarakat sehingga permintaan tetap tinggi akan cabai segar.

Nah yang menarik disini nih, tahu gak apa yang beliau usulkan sebagai pemerintah yang memiliki kebijakan mengatur itu semua? “Tanam Sendiri”. yup, temen-temen tidak salah baca atau salah dengar lho, beliau memang menyarankan  untuk tanam sendiri di rumah-rumah. Mengapa saya katakan menarik? ya memang ini sedikit unpredictable solution sih. Menurut bahasa sunda na kang Ibing mah out of the box lah. Tapi di balik itu semua, memang benar lho. Sebaiknya memang kita sebagai kaum hawa, ibu yang menguasai dapur, jantungnya seksi konsumsi keluarga, harus mulai melakukan hal-hal diluar kebiasaan selama ini. Hal-hal yang sudah terlalu nyaman dilakukan namun sangat bergantung pada orang lain. Mulai saat ini yuk kita belajar mandiri, menanam makanan terutama sayur dan buah, minimal yang dimakan sendiri.

Lakukan Konsep 3M

Lalu, pertanyaan yang mugkin terlontar adalah, gimana mau nanem, lahan aja kita gak punya lha wong hidup di hutan beton begini? tenang saja, bukankah kita telang sering mendengar kata Urban Farming? belum pernah? Aquaponik? belum pernah? kalo Hidroponik? Betul memang, konsep  Urban Farming baik denga metode aquaponik maupun hidroponik, atau dengan konvensional dalam pot merupakan salah satu dari sekian banyak solusi untuk meningkatkan kemandirian dan ketahanan pangan di keluarga. Yang penting ingat selalu pesan Pak Kyai Abdullah Gymnastiar dengan 3M nya, mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari saat ini. yang penting ada kemauan, mudah-mudahan jalan lebarmenunggu dihadapan kita.

Panen Pertama Pertanian Perkotaanku

Saya sendiri dalam sekala sangat-sangat mikro mungkin, he..he.. sudah mulai mempraktekan “Urban Farming” ini. Karena di rumah masih tersisa pekarangan yang masih tanah, maka sayapun mulai menanam sendiri kebutuhan-kebutuhan dapur yang sederhana dan relatif sering digunakan. Lengkuas, jahe, kunyit, cabe-cabean (Ups maksudnya aneka jenis tanaman cabai, dari cabai merah hingga cabai rawit), tomat, dan lainnya. Dan beberapakali sudah terasa manfaatnya, kalo butuh tinggal petik atau gali sendiri deh. Ada kebahagian yang luar biasa ketika panen pertama. Pantes banyak orang bilang, bahwa makanan yang disediakan oleh petani itu penuh keberkahan.

Terkait Higienitasnya juga kita tahu persis, apakah mengandung perstisida atau tidak, apakah menggunakan pupuk kimia atau organik, kan kita sendiri yang melihara. Pokoknya asik deh. Dan jamin, lebih bahagia kitanya. Pun demikian, selain menanam ditanah dalam pot, dan pekarangan dengan luas seadanya, saya juga telah dan sedang mempraktekan bagaimana menanam sayuran dengan metode hidroponik dan aquaponik. perihal kedua metode ini, saya ceritakan nanti deh.